Failing Make Wondering

2010
09.14

Dorin Lida Kusuma Wardani

E44100073/ Laskar 24

Cerita inspirasi ini bercerita tentang kegagalan yang saya alami. Kegagalan itu saya alami saat akan meneruskan pendidikan ke jenjang SMP. Saat itu SMP yang ingin saya tuju adalah SMPN 1 Madiun. Salah satu sekolah favorit yang ada di tempat saya berdomisili. Layaknya seorang tentara yang akan berperang saya pun mempersiapkan berbagai persiapan. Mulai dari les untuk menguasai berbagai model soal hingga ikhtiar di malam hari. Dengan persiapan yang matang saya pun berangkat mengikuti tes saringan masuk SMP dengan optimis. Bangunan SMP yang tertata indah dan fasilitas yang mumpuni semakin membuat keteguhan hati saya untuk bersekolah di situ. Saat itu yang diujikan adalah soal matematika, bahasa Indonesia dan ips. Dengan model soal yang hampir mirip dengan yang biasanya saya kerjakan . Saya merasa diberi kelancaran saat mengerjakannya meskipundalam kondisi tubuh yang kurang fit.Doa dan ikhtiar yang dilakukan sembari menunggu pengumuman. Dan pengumuman yang dinanti pun tiba. Sehabis subuh ayah saya pergi ke warnet untuk melihatnya. Dengan wajah sendu ayah pulang dan harus memberi berita buruk. Dengan logat jawa ayah berkata ,” gapapapa nduk belum rejekimu.” Bagaikan di sambar petir di pagi buta dan seolah tidak ada oksigen disekitar saya. Wajah pucat pasi dan dada terasa sesak mendengar berita ke gagalan itu. Sepontan saya pun menangis tak henti-henti. Layaknya kompas yang patah jarum penunjuk arahnya saya pun merasa dunia ini gelap karena tak tahu bagaimana nasib saya selanjutnya.Saya menjadi rendah diri karena melihat betapa beruntungnya sahabat saya yang bisa lolos seleksi. Kemudian ayah mendaftarkan ke SMPN 13 yang berlokasi tepat dibelakang SMPN 1 Madiun. Seperti mimpi buruk dan saya ingin cepat bangun dari mimpi itu saat pertama kali melangkahkan kaki di sekolah saya yang baru. Untung saya tidak sendirian karena ada teman semasa TK saya yang sekelas. Kegagalan membuat saya benar-benar tidak semangat untuk bersekolah pada awalnya. Seringkali setiap istirahat saya mengajak sahabat saya itu keperpustakaan. Perpustakaan berada di gedung lantai dua yang memiliki balkon. Dibalkon itu saya bisa melihat sekolah yang saya impikan. Diiringi hembusan angin sepoi-sepoi saya berimajinasi. Apa yang sedang saya lakukan jikalau berada di tempat itu. Sedih rasanya..
Hingga berbulan-bulan saya merasa masih belum nyaman berada disekolah saya yang baru. Ketidak nyamanan itu mebuat saya malas untuk mendengarkan guru saat mengajar. Tapi anehnya nilai-nilai saya cukup memuaskan. Samapai suatu ketika saya didaulat untuk mengikuti lomba mewakili sekolah. Tidak hanya satu atau dua kali tawaran itu. Tapi terus-terusan, alhamdulilah dbeberapa event lomba retelling story dan apresiasi sastra saya menang. Banyak pengalaman yang saya dapat dari lomba – lomba yang saya ikuti. Karakter saya yang pemalu telah berubah menjadi keberanian yang diakibatkan sering tampil di hadapan orang. Tidak hanya sebatas itu pengalaman yang saya dapatkan semasa SMP. Melainkan penglaman beroganisasi pula. Saat itu saya mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah. Jiwa kepemimpinan saya dapatkan diorganisasi itu. Selama dua tahun berkecimpung dalam berbagai kegiatan saya menikmati hal itu. Dan tiba saatnya masa penentuan kejenjang selanjutnya yaitu SMA. Saya ingin sekali bersekolah di SMAN 1 Madiun. Perjuangan itu dimulai saat awal kelas tiga karena masuk SMAditentukan oleh nilai ujian nasional. Dalam hati saya bertekat bahwa saya tidak boleh gagal lagi. Saya harus berjuang melawan ratusan siswa dari SMP lain. Demi menyamakan kemampuan saya akhirnya mengikuti bimbel bersama murid SMPN1 Madiun. Awalnya saya minder tapi saya semakin termotivasi. Kegiatan belajar disekolah untuk persiapan ujian dimulai jam 06.00 pagi dilanjutkan intensif belajar sampai jam 15.00. Dan saya harus mengikuti bimbel sampai jam 18.00. Tidak peduli panas, hujan dan letih ,inilah proses yang harus saya jalani. Karena saya yakin perjuangan yang maksimal akan menghasilkan hasil yang setimpal. Kegagalan itu membuat saya semakin kuat ( failing make wondering ) dan tidak boleh jatuh pada lubang yang sama.Demi meraihnya saya rela belajar melebihi waktu belajar teman-teman saya.Sampai akhirnya ujian pun telah terlewati dengan lancar berkat iringan perjuangan dan ikhtiar. Dan pengumuman yang saya dapatkan adalah hasil yang setimpal dari perjuangan saya Tiga tahun sebelumnya saya menangis karena sebuah kegagalan dan akhirnya tangisan yang sekarang adalah tangisan kesuksesan. Mimpi bersekolah di SMA N 1 Madiun telah tercapai. Sebuah mimpi yang harus melalui proses panjang. Tida hanya impian yang tercapai melainkan jiwa pantang menyerah telah tertanam dalam diri saya. Because Smart is not enough It takes more efforts to be an extraordinary, and whenever there’s a will there’s away.

My Friend is My Inspiration

2010
09.14

Sahabatku Inspirasiku , Dia adalah Dita Narvitasari seorang teman yang saya temui ketika SMA. Sekarang dia masih duduk dikelas dua belas. Dia harus tertinggal satu tahun lagi karena pada tahun lalu dia mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika. Satu tahun lalu dia bersekolah di kota Wisconsin di Amerika. Gadis ceria ini memilik segudang prestasi semasa SMA. Dia memilih jurusan IPS sebagai program study yang ia tekuni. Meskipun demikian tapi dia pernah memenangkan lomba olimpiade biologi dan kebumian. Aneh memang karena pelajaran itu tidak diajarkan di program studi IPS . Tapi inilah bukti nyata bahwa dia selalu tekun dalam segala hal. Dia juga telah berkali – kali memenangkan lomba debate bahasa Inggris. Hebat sekali kan sahabat saya ini?Persahabatan ini dimulai saat kami menjadi satu team dalam lomba debate. Banyak hal yang diceritakan Dita kepada saya. Dita memulai debut prestasinya saat SMA. Dia tidak pernah takut mencoba dan selalu berusaha semaksimal mungkin saat ada kesempatan. Pergi ke Amerika adalah mimpinya dari kecil. Dan semua itu telah ia wujudkan. Karena dalam hidup ini Dita memiliki motto “hope and fight” yang berarti bahwa dalam hidup kita harus percaya pada apa yang kita harapkan mengenai keberhasilan apa yang akan kita inginkan dan harapan itu wajib untuk direalisasikan dengan cara perjuangan. Atas dasar itulah Dia mampu mewujdkan mimpinya. Sebelum keberangkatannya ke Amerika di harus berjuang melalui proses yang begitu panjang. Mulai dari seleksi yang diadakan dengan banyak tahap hingga berbagai cobaan saat akan berangkat. Semua itu dia lakoni untuk merealisasikan harapannya. Sesaat sebelum keberangkatannya , dia mengalami kendala dalam biaya pembuatan visa dan sebagainya. Tapi dia berusaha untuk mencari biaya dari bantuan kepala sekolah. Dan akhirnya bapak kepala sekolah saat itu mau memberikan sumbangan. Akhirnya harapan itu menjadi kenyataan karena kegigihannya berjuang. Meskipun tidak mudah dalam penyesuaian dirinya saat di sana , Dita terus berusaha menjadi yang terbaik. Cobaan pun harus melanda Dita . Seminggu sebelum kepulangannya ke Indonesia dia harus kehilangan ayahnya. Dita tetap tabah dan dia bertekad mewujudkan mimpinya yang lain untuk membanggakan orangtuanya. Saya bangga memiliki sahabat seperti dia, karena semangatnya mampu menginspirasi saya.

Cara Instan Masih Jadi Pilihan Langsing

2010
07.20

KOMPAS.com Mencari cara tercepat untuk langsing masih jadi obsesi mereka yang bertubuh gemuk. Selain berdiet, cara menurunkan berat badan yang banyak dipilih adalah menggunakan pil pelangsing, akupunktur, ke dokter gizi, dan berolahraga. Namun, mayoritas yang memilih jalan pintas itu mengakui bahwa usaha yang mereka lakukan gagal memberikan hasil.

Hal tersebut terungkap dalam hasil survei yang dilakukan oleh Fitnes First, sebuah jaringan klub kebugaran, terhadap 300 orang yang mendaftar dalam program audisi The Biggest Loser Asia. Hampir 41 persen responden mengatakan, kegagalan mereka disebabkan rasa bosan menunggu hasil, 44 persen tidak kuat menahan godaan, 11 persen karena kurangnya dukungan orang di sekitar, dan 4 persen karena tidak yakin akan berhasil.

Menurut Rowan Searle, Country Manager Fitness First Indonesia, untuk mereka yang obesitas, yang dibutuhkan adalah transformasi menyeluruh, baik fisik, pola pikir, maupun gaya hidup. “Olahraga dan diet seimbang saja tidak cukup. Namun, menyerah bukanlah jalan keluar,” katanya di Jakarta, Sabtu (17/7/2010).

Berdasarkan analisis dan uji coba berbagai metode, Fitness First menyimpulkan bahwa program penurunan berat badan secara berkelompok terbukti lebih efektif. “Ini karena mereka akan melalui perjuangan mengatasi obesitas dengan orang-orang yang memiliki kondisi yang sama sehingga mereka tidak merasa sebagai minoritas. Dengan demikian, motivasi lebih kuat,” tambah Juliany Nurdin, PR & Marketing Manager Fitness First.

Metode dan efektivitas program berkelompok tersebut dituangkan dalam program Lose Big Programme yang mengambil contoh keberhasilan tim pelatih fitnes di The Biggest Loser Asia. Di Indonesia, 40 orang yang menderita obesitas telah menjalani program ini dengan penurunan bobot tubuh terbesar dicapai oleh Jani Gurnani (54) yang berhasil mengurangi 28,2 kg dari bobot sebelumnya 146,3 kg.

Lose Big Programme adalah program penurunan berat badan dan nutrisi yang terstruktur selama 13 minggu. Dalam program ini, olah tubuh serta sesi edukasi dan motivasi dikombinasi dan dirancang khusus untuk orang dengan indeks massa tubuh 25 atau tubuh dan persentase lemak tubuh 35 persen ke atas.

<!–/ halaman berikutnya–>